Terbukti, Ruangan di Bawah Podium
oleh Satrya Graha/"PR"***
DATA awal pengukuran yang diperoleh tim eksplorasi dari Terralog dan Geofisika Terapan ITB pimpinan Dr. Hendra Grandis, membuat "PR", pegawai Museum Konperensi Asia Afrika (KAA), dan Bandung Heritage, dikejar rasa penasaran. Salah satunya, data awal yang memperlihatkan image kasar adanya "ruang kosong" di bawah ruang VIP I dan II yang sebelumnya tidak pernah terungkap. Yang lainnya, ialah data yang mengindikasikan adanya "ruang kosong" di trotoar depan Gedung Merdeka, dan trotoar depan bangunan tua di seberang Gedung Merdeka.
Ferry Rahman Aries, seorang peneliti Terralog belum berani menyimpulkan arti data itu. Menurut dia, kesimpulan bisa diambil jika data telah diolah. Pengolahan data memakai peranti lunak khusus yaitu Reflexw dan Sandmeier. Beberapa pekerjaan besar akan menanti jika hipotesis keberadaan lorong-lorong rahasia itu terbukti. Untuk Gedung Merdeka, kemungkinan akan dilakukan penggalian kembali jika terbukti ada terowongan itu.
Kepala Museum KAA Isman Pasha mengatakan, mereka bertekad mengembalikan bentuk asli Gedung Merdeka. Langkah awal ialah dengan menjebol pintu lorong bawah tanah yang kini di tertutup bata dan semen. Tekad Isman itu bukan main-main. Pasal 13 (2) UU RI No.5/1992 tentang Cagar Budaya menyebutkan, perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya wajib dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanannya.
Isman berharap, dengan dikembalikannya Gedung Merdeka ke bentuk aslinya, akan memberi pengalaman berbeda bagi para pengunjung yang datang ke Museum KAA. "Mereka nantinya tidak hanya datang, mendengar paparan soal KAA, atau hanya sekadar foto-foto. Saya ingin pengunjung mendapat sensasi dan pengetahuan yang berkesan. Salah satunya, perjalanan menyusuri ruang bawah tanah," katanya.
Dua hari setelah pengukuran, tim Terralog yang diwakili Ferry, memaparkan hasil pengolahan data pengukuran itu. Hasilnya, tidak jauh dari dugaan sebelumnya. Hasil pengolahan data menyebutkan, pengukuran di lintasan depan dan atas podium ruang konferensi, terindikasi adanya ruang bawah tanah yang ditimbun di bawah podium ruang utama.
Lebarnya ruang bawah tanah itu tak jauh berbeda dengan lebar podium, sekitar tiga meter. Pengukuran di lintasan atas podium juga menunjukkan adanya suatu batas urukan sekitar 0,5 meter dari batas anak tangga paling atas.
Pengukuran dengan lintasan ruang utama, koridor antara ruang konferensi dengan ruang VIP, serta ruangan di sayap barat, menunjukkan ada ruang kosong yang diindikasikan sebagai lorong di bawah lantai. Lorong itu kemungkinan jalan tembus dari ruang bawah tanah yang ada sekarang menuju ruang di bawah podium.
Tak terbukti
Data pengukuran yang cukup fenomenal, yaitu gambaran ruang kosong di bawah ruang VIP I dan VIP II. Jika data kasar saat pengecekan menunjukkan adanya "ruang kosong", namun setelah data itu diolah ternyata tak terbukti. Data yang agak berbeda itu ternyata hanyalah perbedaan lapisan tanah di sekitar itu. Olah data pengukuran di trotoar depan Gedung Merdeka menunjukkan, ruang kosong di bawah trotoar tidak mengarah ke gedung di seberangnya.
Demikian juga dengan data georadar yang diperoleh dari trotoar sepanjang de Vries hingga Toko Lido. Hipotesis Gedung Merdeka tersambung dengan Gedung de Vries dan Toko Lido melalui terowongan, tidak terbukti. Data georadar yang menunjukkan "ruang kosong" hanyalah gorong-gorong.
Hasil itu membuktikan, cerita tentang lorong-lorong rahasia yang menghubungkan gedung-gedung tua di sepanjang Jln. Asia-Afrika hanyalah isapan jempol. Namun, cerita tentang ruang bawah tanah dan lorong di dalam Gedung Merdeka, benar adanya. Termasuk fakta keberadaan ruang bawah tanah di sejumlah bangunan tua zaman Belanda seperti de Vries dan Toko Lido
.: pikiran rakyat, Minggu, 29 Maret 2009 :.
TIGA tulisan sebelumnya mengupas keberadaan terowongan di Gedung Merdeka, de Vries (Toko Padang), dan Toko Lido. Misi selanjutnya ialah mencari kebenaran tentang lorong-lorong bawah tanah yang kabarnya menghubungkan ketiga gedung tadi. 
