Boleh dibilang kalau profesi yang aku geluti sekarang tidak normal. Aku adalah seorang geophysicist junior di bagean eksplorasi khususnya bahan tambang / mineral. Profesi ini aku jalani mulai dari sejak menamatkan sekolahku di samping kebun binatang bandung tahun 2006 silam. Lapangan pertamaku yaitu Kalimantan Selatan. Namun saat sebelum lulus (lagi TA sih) aku sudah mulai diajak mengukur resistivity di km90 tol cipularang untuk mempelajari amblesan yang terjadi pada tahun 2006 lalu. Lalu kemudian, setelah sidang (tinggal menunggu wisuda), aku diajak dosenku untuk ikut survey magnetotelluric (MT) di losari, yang diaplikasikan untuk oil and gas. Namun, berhubung akan menghadiri wisudaku, sehingga aku off dulu dari sana, dan berencana kembali ke losari setelah wisuda selesai. Tetapi ada request lain untuk survey Geomagnetik di Kalimantan Selatan untuk eksplorasi bijih besi (ini lapangan pertamaku setelah resmi lulus). Sehingga lapangan losari tidak aku lanjutkan, sementara tim lain tetap menjalankan survey itu sampai rampung (maklum, aku kan cuma numpang hehe).

Do you get what i mean abnormal? Iya maksudku, sekolah tinggi-tinggi tapi kerjaannya lari ke hutan, jauh dari keluarga, jauh dari temen deket (ehem). Waktunya pun gak tanggung-tanggung, yaa minimal sebulan lah untuk survey-survey geofisik macam ini. Tapi kadang saat aku freelance aku mendapatkan waktu survey yang kurang dari seminggu, biasanya ini untuk daerah yang tidak luas. Kini aku sudah bergabung dengan konsultan swasta yang baru saja dibentuk hampir setahun yang lalu. Survey yang telah kami lakukan memiliki daerah yang rata-rata lebih luas, sehingga waktu survey rata-rata sebulan juga.

Pulang dari lapangan, kita berrehat dahulu sejenak beberapa hari, namun kemudian kita ikut berpartisipasi dalam pengolahan data. Bagian prosesing dan bagian field harus memiliki koordinasi yang bagus. Oleh sebab parameter-parameter prosesing tetap harus tanya orang yang mengukurnya dunk…

Bulan-bulan penghujan seperti sekarang, biasanya permintaaan survey jarang ada, sehingga kami bisa memiliki waktu lebih luang di kantor. Kotabaru Parahyangan Padalarang tempat kami berkantor resmi. Tetapi ternyata… dari beberapa project yang kami tangani, bermuara di bulan-bulan ini dengan laporan seabreg yang harus dikerjakan. So, tetep… kami, dan juga khususnya aku lebih sering menginap di kantor, paling tahan pulang seminggu sekali untuk refreshing ke kota. Haha, sampai-sampai ‘temenku’ bilang… “ah, gak di lapangan gak di bandung kok sama aja yaa susah kalo mau ketemu”, bedanya cuma ada sinyal aja kalo di sini mah. :p Yaah mau bijimana lagih, orang ini konsultan masih baru, yaa kita harus give our best performance dunk for the first sight. N mudah-mudahan kerja keras kita ini menghasilkan sesuatu ke depannya. Ya gitu deh neng, jangankan neng, orangtuaku aja bilang begitu juga kok. Kadang sms, “kapan pulang?” Begitu dah.. yaa harap maklum deh yaa, kerjaan akang emang gini, tapi kalo dah berkeluarga mah insya 4w1 gak gini-gini amat.. Makanya buruan lulus hehehehe… (lah kok jadi curhat dan tendensius).

Walaubagaimana pun saya ambil petik sisi baiknya saja, saya jadi bisa tahu adat kebiasaan orang-orang di luar jawa, yang kadang bisa sangat berbeda sekali. Dan selain itu juga udara yang dihirup bisa sangat menyehatkan, tidak seperti di kota yang telah penuh dengan polusi. Hmmmh…. (sigh) meski mungkin daerah-daerah yang telah disurvey juga nantinya bakalan tidak sehat udaranya kalau memang propose dan jadi untuk ditambang…. Orang teknik lingkungan lah di sini yang harus bisa berperan aktif. Hehe.. alesan dan membela bidangku… :D