Memang saat sekembalinya aku dari zona exploration sebelum lebaran lalu, sudah dikabarkan berita tentang kepergianku ke area yang telah dieksplor sekitar 3 bulan yang lalu. Manggarai,Flores. Namun kali ini dengan metoda Resistivity-IP dengan target yang sama seperti sebelumnya di daerah yang lebih selatan dari area yang akan kueksplor ntar. Mn. Alat yang akan digunakan sekarang adalah Supersting dari AGI, sebelumnya saya menggunakan Ministing dari producer yang sama. Pertimbangan menggunakan Supersting ini yaitu arus yang diinjeksikan bisa lebih besar maksimum hingga 2000 mA. Kabel yang digunakan pun berupa multielektroda, sehingga pengukuran otomatis dan produksi km bisa lebih cepat daripada kabel manual seperti sebelumnya saat pake ministing.

Multielectrode yang saya gunakan sebanyak 56 elektroda dengan spasi maksimum 25 m, sehingga bisa mengkover lintasan sepanjan 1375m. Sebelum ke lapangan kami mencoba alat tersebut di lapangan depan kantor kami.

***

Tiket sudah dipesankan tanggal 14 Oktober 2008 jam 5.20 dan harus check in 4.30. Pukul 2.30 tim sudah tiba di Gate F4 dan menunggu 4.30 juga menunggu si tukang tiket (yang mbawain tiketnya). Tim terdiri dari 5 orang, hanya aku orang yang paling muda, lainnya sudah punya anak dari yang masih SD, ampe yang udah kuliah. Barang bawaan terdiri dari 3 troly, 5 tas pakaian, 2 tas alat, 2 box peralatan. Setibanya di Ngurah Rai, kami langsung check in dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit menuju Komodo. Kami sempatkan dulu sarapan hingga pemanggilan kedua terdengar. Sesampainya di Komodo, ternyata hanya 1 barang yang ikut bersama kami. Sisanya masih tertinggal di Ngurah Rai dengan alasan overweight sebab saat itu penumpang full, tidak seperti biasanya. Sementara penerbangan berikutnya adalah esok hari. Pihak manajemen bertanggung jawab dan berjanji akan mengantarkan barang-barang kami keesokan harinya ke Reo. Namun kami tetap melanjutkan perjalanan menuju Reo via Ruteng. Seperti sebelumnya start dari Labuan Bajo sekitar pukul 2 setelah makan siang. Tiba di Reo sekitar pukul 9 malam. Gak ganti baju gak mandi juga, coz smuanya ada di Tas Pakaian yang tertinggal di Denpasar. Tas kabinku cuma berisi leptop, 2 gps, laser distance yang dibalut kain sarung dan sejadah. Padahal biasanya aku suka menyelipkan 1 pak.dalam n 1 stel pakaian ganti, namun entah mengapa pada kali ini, aku lupa.

***

Esok hari perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu nelayan, sementara 1 orang masih menunggu 8 barang kami yang tertinggal dan akan diantarkan dengan kendaraan dobel kabin melalui darat. Perjalanan laut melewati satu tanjung, yang di sana terdapat salah satu perusahaan tambang Mn juga. Ketika malam, kami suka melihat tanjung ini di kejauhan karena terangnya di horizon. Perahu yang kami tumpangi dicarter dan memakan waktu sekitar 1.5 jam melalui pantai dekat kampung yang bernama Lemarang. Gelombang cukup berombak ketika perahu menggitari tanjung dan laut berwarna biru tua, menandakan lautnya sudah lebih dalam. Saya hanya berdoa dan pasrah saja, koz aku tak bisa baronang en tak ada pelampung mih…. Setibanya di pantai, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui hutan bakau, dan memakan waktu sekitar .5 jam. Yup! kami tiba sekitar pukul 2. Hari sangat panas sementara acan mandi en baju masih eta-eta keneh… karenang pisan euy!

***

Akhirnya barang-barang kami tiba di malam harinya, bisa mandi euy! dan rasanya seperti kembali menjadi manusia lagih, pas kemarin teu mandi 3 hari kayak bukan manusia hehehe.. bayangin aja terakhir mandi tuh tanggal 13 pagi hari, dan baru mandi lagi tanggal 15 malam hari, kebayang yaa kalo pas yang survival di hutan gituh, kagak mandi2 n ganti baju…. Direncanakan ada satu gunung yang akan dieksplor, Acurangga (yang berarti Anjing yang bertanduk). gunung ini dicover dengan 1 baseline dan 5 crossline. Target kedalaman sekitar 75 meteran dan panjang target sekitar 250 meter. So, kita pakai kabel setengah roll yaitu 675 meter saja (14 elektroda). Hmmm…. misalkan satu hari dapet satu line, berarti seminggu juga beres dunk yaa….

***

Hari pertama transportasi 2 roll kabel (satu roll terdiri dari 14 elektroda) ke atas gunung.. Beuh! mendaki taki! lebih steep daripada lokasi sebelumnya. lumayan ngesang, en leneng euy.. bintang berputar2…. udara panas dan oksigen menipis…. Sesampainya di baseline, istirahat bentar dan meneguk beberapa tegukan air dari botol yang jadinya agak panas saking panasnya udara. Nikmati angin yang berembus dari arah pantai. Baselinenya pas pisan di punggungan.

Pengukuran dimulai keesokan harinya di baseline yang relatif mengikuti punggungan. Lebar punggungan hanya sekitar 25 - 30 meter loh. Terus langsung turun curam dan terlihat tebing di kejauhan. Tepat di jalur crossline. Pengukuran hari pertama cukup lancar. Begitu pula di hari-hari berikutnya, hingga hari ke 9 (ada satu crossline tambahan).

***

Penduduknya lumayan bersahabat dan gak nekoneko, malahan senang akan kedatangan kami, coz ni desa tuh paling barat dari kecamatan Reo, dan akses jalan ke desa ini baru-baru saja dibuka dan diperlebar dozer (bukan dozer karli yah). Di rumah tempat kami bermarkas agak kesulitan air, coz airnya cuma ngalir malem, giliran soalnya. Dan kalau pipa tersumbat atau pecah di gunung sanah, air jadi tidak ngocor dan kami pun memandikan diri di sungai yang lumayan lebar dan sedalam lutut pada sore hari. bareng jeung kebo, tapi kita lebih ke arah hulu lahh…..

***

Pengukuran selesai selama 7 hari dan 1 hari orientasi, wah bentar dunk yaa.. padahal kan biasanya kita sebulanan man! tapi ya gakpapa lah, soale kemarin juga baru recovery sekitar 2 minggu pas pulang dari kendari lalu. heu heuh eu.. Perjalanan pulang juga sama panjangnya kayak kepergian, so intinya kurang lebih sama, hanya saja kita nginapnya di Ruteng bukan di Reo. Kita terdampar di Denpasar 3 jam-an, karena pesawat yang dipesankan ke jakarta tuh jam 5 sore. Nyampe jakarta jam 7, dan tiba di rumahku tengah malam hampir ke dini hari minggu.