Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu kata orang, namun mbok ya diperhatikan kesejahteraan guru itu. Pengorbanannya begitu besar demi kemajuan anak-anak didiknya. Jadi ingat waktu SD dulu, kami dan orang tua kami sibuk untuk mengumpulkan dana dan mencari kado yang kira-kira pantas untuk guru-guru kami. Hal tersebut seperti sudah menjadi budaya, dan tidak ada paksaan sama sekali, kebetulan angkatan kami itu angakatan yang cukup kompak orang tuanya, terutama ibu-ibunya. Menerima kado alakadarnya setiap kenaikan kelas atau penerimaan rapor menjadi potret keharuan seorang guru terhadap anak didik dan orang tua murid.

Percaya atau tidak, hal ini teralami juga oleh ayahku. Kebetulan ayahku diamanahi menjadi wali kelas sebuah sekolah. Tidak jarang ayahku mendapat kado-kado dari anak-anak didiknya atau bahkan dari mahasiswa yang PPL (praktek keguruan) yang kebetulan menjadikan ayahku sebagai pembimbingnya atau pengujinya. Hal-hal itu tentunya juga menjadi rezeki bagi keluarga, jika bentuk makanan misalnya.. kan tetep weh yang nikmatin kita-kita. Dan itu terjadi ketika kenaikan kelas atau proses bimbingan selesai.

Hal ini tentu berbeda dengan menyuap/menyogok, yang biasanya memberi sesuatu dengan pamrih dan pada saat sebelum kejadian (event kenaikan kelas atau proses pengujian). Untuk hal ini, tentu saja ayahku selalu menolaknya. Saking sayangnya sama anaknya, semua potongan kue atau makanan.. dibagi rata… tidak dibagi dengan bagian kami anak-anaknya selalu lebih besar dari bagian ayah atau ibu. Jika aku tidak pulang ke rumah, aku tetap kebagian jatah keesokan harinya aku pulang (tentunya untuk jenis makanan yang tahan lama). He.. Lho kok jadi berbicara makanan. That’s all, just wanna share this.