Saya hanya ditemani Air jeruk dingin dan coklat untuk menceritakan sedikit kisah ini. 

Siapa yang sangka kalo abdya itu adalah singkatan dari Aceh Barat Daya. Hampir tengah malam 13 April lalu, saya baru kembali dari Survey Ground Magnetic di Desa Babahrot,Kab.Abdya. Selama 39 hari kami survey di sana, dengan medan yang sangat berat untuk eksplorasi biji besi. Traverse line adalah tahap yang pertama kami lakukan dalam membuat lintasan pengukuran geomagnetik. Tim traverse terdiri dari 5 orang dengan masing-masing membawa GPS Handheld Trimble Juno ST. Sebuah GPS dengan teknologi yang benar-benar baru saya ketahui. Selama ini kita terpaut dengan Garmin yang lumayan simpel. Juno berupa PDA dengan sistem operasi Windows Mobile, selayaknya PDA atau pocket PC, pengoperasian Juno menggunakan sistem Touch Screen. Tim GPS kami adalah bapak-bapak senior yang sudah malang melintang di dunia pengeukuran topo.

Survey ini dilakukan dengan sangat mendadak, sehingga training Juno hanya dilakukan satu hari sebelum kami berangkat ke Aceh. Secara umum kita bisa menguasai Juno ini, tapi ternyata saya sedikit tidak betul. Memang pelaksanaan lapangan cukup bisa dikatakan lancar pada akhirnya, namun yang menjadi masalah adalah Transfering data dari Juno ke PC/laptop.

Secara umum, ada dua cara pengambilan koordinat suatu titik dengan juno, yaitu dengan waypoint atau dengan feature berupa database file. Pengambilan koordinat dengan waypoint, hampir sama dengan Mark pada Garmin. Kita berdiri di satu titik, dan untuk mengetahui koordinat dan menyimpannya kita cukup tekan tombol Mark atau Create waypoint dengan nama tertentu. Sementara pengambilan koordinat dengan database, kita hanya mengeplot titik koordinat yang kita ambil dan simpan pada Map dalam juno, sementara untuk melihat koordinatnya kita harus menunjuk titik yang kita simpan tadi dengan stylus. Jika saya transfer ke laptop, koordinat yang dimaksud tidak bisa saya lihat langsung, titik itu hanya terplot di Map info, sementara koordinatnya harus kita digit ulang. Namun, pengambilan dengan cara Waypoint, bisa kita lihat langsung koordinatnya dan dicopypaste ke Excell sebagaiimana biasa saya lakukan pada Garmin.

Pada Garmin dengan Mapsourcenya, yang dengan mudah kita dapat sortir seluruh waypoint dan mencopy paste ke Excell seluruhnya, sehingga kita tinggal memilah kolom mana yang kita ambil (Easting,Northing,Altitude,dss). Sementara pada Juno dengan TerraSync nya, saya harus mengcopypaste setiap komponen pada setiap titik (Copy paste Easting , Northing , Altitude tidak dalam waktu yang bersamaaan sebagaimana Map source), sangat jelas ini memakan waktu yang teramat lama. Terlebih lagi saya harus transfer 5 juno setiap harinya. 1 juno memiliki produktifitas maksimal 100 titik, pada awalnya, setelah lancar, produksi bisa ditingkatkan menjadi 200 titik per hari per tim, jadi total titik yang harus saya copypaste satu-satu sebanyak 5 x 200 = 1000 buseet!!!!! Walhasil data yang harus saya kirim menjadi berantakan. Faktor lain yang menjadi penyebab berantakkannya data yang saya kirim ke Bandung adalah Pengukuran yang tidak beraturan (seharusnya pengukuran dilakukan berurut dari U ke S misalnya atau line T001 -> T200). Hal ini tidak memungkinkan dilakukan mengingat kondisi lapangan dan kondisi masyarakat di sana.