10 Maret 2008 - Alue Dawah
Orang yang bernama Umar itu ada dua di Desa Babahrot itu. Kebetulan Pak Umar Kepala Desa dan Nyak Umar orang yang bertanggunjawab atas kami sebagai perwakilan dari PT. Bumi Babahrot. Oleh karena kami tidak tahu bahwa Nyak itu berupa panggilan atau apa, sehingga jika kami langsung panggil Nyak Umar tidak sopan, maka kami memanggil Nyak Umar dengan Pak Umar. Ternyata ini membawa kesalahpahaman yang besar. Pak Umar kepala desa tidak terlalu tahu akan survey ini, dan kurang berpengaruh daripada Nyak Umar. Kemudian satu lagi, mereka yang menghadang , yaitu anggota-anggota KPA (Komite Pembela ACeh, dulunya disebut GAM) sangat sensitif dengan orang yang bernama Pak Yakir. Sehingga bertambahlah alsan mereka melarang kami naik.
Nyak Umar itu salah satu penduduk lokal yang menjadi kakitangan TNI untuk menyelesaikan masalah GAM, sementara Pak Yakir adalah atasan dari Nyak Umar, sehingga Nyak Umar merasa nggak enak kalo tidak mengajak2 Pak Yakir dalam survey ini, padahal yang menjadi Pegawai PT.Bumi Babahrot hanylah Nyak Umar seorang.
Selidik punya selidik, orang-oranga yang menghadang itu adalah masih sodaraan denagna Nyak Umar, hubungan sepupu, ipar dsb. Heran kan? sama hehhehe, katanya lagi orang aceh itu sifatnya suka berperang, begitu rojerr…
Basecamp kita yang semula di Blang Pidie (letaknya 60km -an) dan ditempuh dengan kendaraan sekitar 1/2 - 3/4 jam, berpindah ke Alue Dawah yang letaknya kurang lebih 500 m dari line T001. Kita menyewa rumah seseorang yang cukup berpengaruh, yaitu Paman dari orang-orang yang menghadang kami itu kemarin. rumah Pak Ajas yang kita sewa ini bersebelahan dengan rumah yang Pak Ajas tinggali dengan keluarganya.
Tadi siang kita berhasil membuat Traverse T001,T003,T005,T007.. namun alangkah kagetnya pas habis magrib,stlh makan malam.. itu orang2 yang menghadang kemarin siang , tiba 2 datang ke rumah dan hampir menampar salah satu tim GPS kami, Pak Salikan, yang kebetulan waktu itu akan keluar kamar. Itu orang tiba2 masuk ke rumah dengan tanpa melepas alas akaki. untungnya Pak Ajas segera tahu dan memarahi itu keponakan2nya dan menegaskan bahwa Mereka (maksudnya kami) itu adalah tamu saya, dan rumah itu bukan dijadikan kantor, tapi tempat tinggal! mereka nyewa sama saya, jadi kalo mau ada urusan sama mereka, kalian berhadapan dulu dengan saya!!), akhirnya emosi itu anak2 bsia sediikit reda dan menjelaskan duduk permasalahan… yang pada akhirnya cuma terjadi kesalahpahamwan sahaja.
Pandai juga pak Dwi ini dalam mengatur siasat basecampnya, cari di sebelah orang berpengaruh, supaya kita menjadi tentram bekerja…
Survey bisa dilakukan dengan tenang keesokan harinya…..
9 Maret 2008 - Blang Pidie
Hari ini kami tidak akan survey, mengingat kejadian kemarin masih belum selesai. Pak Dwi dan Nyak Umar diskusi panjang lebar di Babahrot untuk menjelaskan maksud tujuan kita, dsb dsb, dan bagaimana menyelesaikan masalah kesalah pahaman kemarin.., namun diskusi sedikit alot, dan baru pada malamnya kita mendapatkan keputusan aman untuk survey di babahrot, dan juga basecamp baru kita sudah siap di sana, sehingga besok setelah survey, langsung pulang ke basecamp baru.
Hari ini dihabiskan untuk mentraining kembali bapak2 itu supaya lebih mantap dengan Juno-nya… Kebetulan Basecamp Blangpidie ini bekas Mess, sehingga memiliki halaman yang sangat luas untuk berlatih GPS.
8 Maret 2008 - BlangPidie,abdya
Hari sabtu ini adalah menjadi hari pertama kita mengukur di Aceh, bagi saya yang baru kali ini menginjakkan kaki di Aceh cukup agak degdegan, karena isu GAM-nya, namun orang yang bertanggung jawab atas kami, sudah bilang bahwa kita aman untuk survey di sana. Pagi itu hujan cukup deras sehingga kita harus berteduh di salah satu rumah penduduk dan menyiapkan pita-pita untuk tanda patok koordinat kita tiap 10 meter. Panjang line 1km. Hujan reda sekira jam 11, maka kami pun bergegas untuk naik. Sesuai dengan rencana kerja yang kita bekali dari badnug, kita mulai pengukuran dari tengah dan meyebar ke arah utara dan selatan.
Sebagaimana biasaanya hari pertama survey, selalu saja ada adaptasi. Saat itu ada satu teman tim GPS belum membeli kauskaki, sehingga di mampir dulu di pasar untuk membeli kauskaki. NAmun para TL sudah duluan menuju lokasi yang terletak di belakang Masjid. Kita menunggu teman kita itu, dan pada saat kita akan menyusul para TL itu, dengan kagetnya kita dihadang oleh pemuda2 yang mengaku sebagai penguasa daerah/gunung yang kita naiki.
Mereka bertanya atas izin siapa boleh survey di sini. kami menjawab Pak Umar dan Pak Yakir, entah mengapa setelah mendapat jawaban itu, mereka sangat marah dan melarang kita naik dengan hampir terjadi bentrok kekerasan, amannya kami bergerak mundur menuju tempat kita berteduh tadi. Dan menunggu Pak Umar untuk menyelesaikan masalah ini… (bersambung)
Saya hanya ditemani Air jeruk dingin dan coklat untuk menceritakan sedikit kisah ini.
Siapa yang sangka kalo abdya itu adalah singkatan dari Aceh Barat Daya. Hampir tengah malam 13 April lalu, saya baru kembali dari Survey Ground Magnetic di Desa Babahrot,Kab.Abdya. Selama 39 hari kami survey di sana, dengan medan yang sangat berat untuk eksplorasi biji besi. Traverse line adalah tahap yang pertama kami lakukan dalam membuat lintasan pengukuran geomagnetik. Tim traverse terdiri dari 5 orang dengan masing-masing membawa GPS Handheld Trimble Juno ST. Sebuah GPS dengan teknologi yang benar-benar baru saya ketahui. Selama ini kita terpaut dengan Garmin yang lumayan simpel. Juno berupa PDA dengan sistem operasi Windows Mobile, selayaknya PDA atau pocket PC, pengoperasian Juno menggunakan sistem Touch Screen. Tim GPS kami adalah bapak-bapak senior yang sudah malang melintang di dunia pengeukuran topo.
Survey ini dilakukan dengan sangat mendadak, sehingga training Juno hanya dilakukan satu hari sebelum kami berangkat ke Aceh. Secara umum kita bisa menguasai Juno ini, tapi ternyata saya sedikit tidak betul. Memang pelaksanaan lapangan cukup bisa dikatakan lancar pada akhirnya, namun yang menjadi masalah adalah Transfering data dari Juno ke PC/laptop.
Secara umum, ada dua cara pengambilan koordinat suatu titik dengan juno, yaitu dengan waypoint atau dengan feature berupa database file. Pengambilan koordinat dengan waypoint, hampir sama dengan Mark pada Garmin. Kita berdiri di satu titik, dan untuk mengetahui koordinat dan menyimpannya kita cukup tekan tombol Mark atau Create waypoint dengan nama tertentu. Sementara pengambilan koordinat dengan database, kita hanya mengeplot titik koordinat yang kita ambil dan simpan pada Map dalam juno, sementara untuk melihat koordinatnya kita harus menunjuk titik yang kita simpan tadi dengan stylus. Jika saya transfer ke laptop, koordinat yang dimaksud tidak bisa saya lihat langsung, titik itu hanya terplot di Map info, sementara koordinatnya harus kita digit ulang. Namun, pengambilan dengan cara Waypoint, bisa kita lihat langsung koordinatnya dan dicopypaste ke Excell sebagaiimana biasa saya lakukan pada Garmin.
Pada Garmin dengan Mapsourcenya, yang dengan mudah kita dapat sortir seluruh waypoint dan mencopy paste ke Excell seluruhnya, sehingga kita tinggal memilah kolom mana yang kita ambil (Easting,Northing,Altitude,dss). Sementara pada Juno dengan TerraSync nya, saya harus mengcopypaste setiap komponen pada setiap titik (Copy paste Easting , Northing , Altitude tidak dalam waktu yang bersamaaan sebagaimana Map source), sangat jelas ini memakan waktu yang teramat lama. Terlebih lagi saya harus transfer 5 juno setiap harinya. 1 juno memiliki produktifitas maksimal 100 titik, pada awalnya, setelah lancar, produksi bisa ditingkatkan menjadi 200 titik per hari per tim, jadi total titik yang harus saya copypaste satu-satu sebanyak 5 x 200 = 1000 buseet!!!!! Walhasil data yang harus saya kirim menjadi berantakan. Faktor lain yang menjadi penyebab berantakkannya data yang saya kirim ke Bandung adalah Pengukuran yang tidak beraturan (seharusnya pengukuran dilakukan berurut dari U ke S misalnya atau line T001 -> T200). Hal ini tidak memungkinkan dilakukan mengingat kondisi lapangan dan kondisi masyarakat di sana.
Senangnya kembali ke peradaban, sekitar pukul setengah 12 malam kupijakan kembali kakiku di home sweet home. satu kopor travel bag, satu tas leptop, satu tas berisi 9gps,2distometer,2kompas dan badan yang tentunya lelah.
Rasanya baru kemarin kupijakan kaki terakhir keluar rumah dengan satu kopor travel bag dan satu tas leptop. Ini ungkapan yang wajar sekali didengar untuk menyatakan bahwa waktu cepat berlalu.
Sekarang kuharus membereskan dulu laporannya, mudah2an nanti ada waktu senggang untuk menceritakan kisahku selama di abdya.

