Alhamdulillah.. Jum’at ini sya bisa terjaga pas khotbahnya, meskipun sebelumnya sempat tidak sadarkan diri pas saat pembacaan pengumuman yang biasa dilakukan sebelum memasuki waktu dzuhur dan khotbah jum’at. Alhasil, nama khotibnya saya tidak tahu.

Pada khotbah ini, beliau berbicara sebagai pembukaan tentang the miracle of water yang merupakan percobaan dari seorang professor Jepang. Bahwa jika segelas air yang didoakan dengan yang tidak diteliti hingga perbesaran ribuan kali dan terlihat kristal-kristalnya, maka kristal dari air yang didoakan sangat terbentuk sempurna daripada yang tidak didoakan.

Pada percobaan I sejumlah nasi dimasukkan ke dalam toples dan setiap hari toples yang berisi nasi itu dipuji-puji dan diterimakasihi "arigatou gozaimasu" oleh semua anak-anak sekolah di suatu kelas, hingga berminggu-minggu ato 2 bulan kalo gak salah 

Pada percobaan II sebuah toples lain yang juga berisi nasi dicaci-maki dan dihina-dina oleh semua anak-anak sekolah di suatu kelas "bagero omae wa", dalam waktu yang sama dengan percobaan I

Pada percobaan III sebuah toples lain yang juga berisi nasi yang setiap harinya didiamkan begitu saja dan dihiraukan.

Walhasil:

Toples I saat dibuka, nasi yang berada di dalam menjadi busuk, namun harum baunya

Toples II saat dibuka, nasinya juga busuk, tetapi mengeluarkan bau yang busuk

Toples III (ini yang sangat membuat kaget khotib) saat dibuka, nasinya juga busuk, dan mengeluarkan bau yang teramat dahsyat melebihi nasi yang ada di toples II ! 

Hal ini adalah akibat dari molekul-molekul air yang terdapat pada nasi tersebut. 

Nah, apa yang berusaha disampaikan di sini adalah bahwa sesuatu yang dihiraukan / tidak dianggap akan lebih menyakitkan daripada dengan yang suka dimaki-maki atau dibenci. Sesuatu yang dibenci atau dimaki-maki tandanya dia masih diperhitungkan. Sedangkan yang didiamkan saja, berarti sudah tidak diperhitungkan dan terserah mau apa aja dia.

Hal ini berkaitan dengan sikap kita pada bencana-bencana yang kian terjadi di Indonesia. Jika dibandingkan dengan kota Alexandria (kota yang baru saja khotib tinggalkan dalam sebuah perjalanan), Kairo, Beirut.. lebih parah maksiatnya daripada yang dilakukan di Aceh, Lhoksumawe, Yogyakarta. Di luar sana, maksiat terjadi lebih terang-terangan.. minuman keras, diskotik, kasino, dan lain sebagainya. Tetapi mengapa Tsunami itu tidak terjadi di luar sana, malahan terjadi di Indonesia ini. Khotib menganalogikan dengan Percobaan Nasi dalam Toples tadi. Jadi, mudah-mudahan bencana dan musibah yang terjadi ini tandanya bahwa kita masih diperhitungkan oleh dJJ1 SWT. dan merupakan suatu penghapus dosa dan peningkatan iman kepada-Nya.  Ammiiinn…..

Wallohu ‘alam bishawab. 

Ada yang mau koreksi dan komen ??? PLiz