fraHart

arrounds| changing| trafficsApril 25, 2009 8:35 pm

Untuk kedua kalinya saya mendengar keluhan sopir yang bertajuk sama. Sopir-sopir itu mengeluhkan penurunan jumlah penumpang akhir-akhir ini. Hal ini disebabkan oleh semakin mudahnya orang mendapatkan motor (kebanyakan dengan cara kredit). Dengan begitu, orang-orang yang dulunya menggunakan jasa angkot, kini mengendarai sepeda motornya sendiri. Terlebih lagi, SIM juga dapat dengan mudah diperolen (dengan jasa ‘nembak’).

Menurut saya pribadi, masalah ini mengerucut pada semakin susahnya keadaan ekonomi. Jika mengambil sudut pandang pengendara motor yang dulunya menggunakan angkot, berpikir bahwa menggunakan motor dapat lebih hemat dan memiliki waktu yang efektif. Tak jarang, angkot-angkot sering mengetem untuk mengejar setoran. Setoran ini dikejar-kejar karena memang harga-harga semakin naik (BBM,onderdil,dsb.), sehingga para pemilik angkot pun menaikkan setorannya.

Saya pribadi masih setia menggunakan jasa angkot dan berharap pada pemerintahan berikutnya, keadaan ekonomi bangsa ini bisa pulih. Aammiiinn…

__________________________________________________________________________
geophysics| meApril 21, 2009 8:42 pm

Bingung kabina-bina urang…..

Beberapa minggu lalu (16 dan 17 Maret 2009) saya diminta dosen saya untuk membantu kerja bakti mendeteksi ruang bawah tanah Gedung Merdeka dengan GPR. Alat yang kami punya buatan Mala Geoscience dan pengolahan datanya menggunakan Reflex2dquick dan Reflexw dari Sandmeier. Pengambilan data dilakukan seharian di dalam gedung Merdeka dan pengukuran di trotoar Asia Afrika pada keesokan harinya. Pengambilan data yang pertama adalah untuk membuktikan keberadaan ruang bawah tanah di bawah podium yang sudah diurug dan ruang bawah tanah yang masih bisa diakses hingga saat ini. Pengambilan kedua adalah untuk membuktikan rumor bahwa terdapat terowongan bawah tanah yang menghubungkan gedung merdeka dengan toko deFritz seberang gedung dan gedung yang sekarang menjadi markas FBB (Front Bela Bangsa) kalao tidak salah.

Sebagaimana prosedur standar pengukuran GPR, kami menandai posisi-posisi yang akan berguna dalam pengolahan dan interpretasi data GPR. Penandaan pun kami lakukan sesuai dengan tempat dan meterannya. Saat pengolahan data, dengan otomatis comment marker itu pun muncul dengan tanda bujursangkar berwarna putih di tepi top axis (bisa dilihat di blog dosen saya ini).

Padahal, sebelumnya comment marker ini tidak saya temui pada data-data GPR yang telah kami ambil sebelumnya di tempat lain, bahkan ketika kami mencobanya lagi mengukur GPR pada jembatan yang terdapat di samping gedung kantor kami di Kotabaru Parahyangan.

Padahal saat pengambilan data dengan Ground Vision, marker tersebut dapat muncul otomatis, ketika menekan tombol 1 - 9. Hal ini dilakukan pada saat pengambilan data di Gedung Merdeka (16 dan 17 Maret 2009) dan juga saat mengukur jembatan. Tak habis rasa penasaran kami, tadi siang kami mencoba mengukur di lapangan depan kantor kami. Lagi-lagi tidak dapat muncul….. Bahkan hingga saat ini, kami masih mencobanya di dalam kantor untuk mencoba lagi mengambil data (dengan posisi antena diam), dengan parameter yang sama persis dengan saat pengambilan data di Gedung Merdeka. Tetep weeehh teu muncul….

Kunaon nya???? Ma ‘enya cuma data gedung Merdeka doang yang bisa??? Mistis sekaliii????? hahhahhaha……

Tadi sore saya coba email ke orang yang bikin softwarenya, mudah-mudahan ada penjelasan masuk akal dari dia ya…..

__________________________________________________________________________
changingApril 2, 2009 8:50 pm

Hari ini kuawali dengan melihat pesan singkat di hape yang "Fer, Happy BDay yaa XDDD ~~~". Waahhh ada juga yang kirim ucapan selamat lewat SMS selain dari facebook. Bagaimana tidak lupa, yang mengirim pesan itu juga memilki tanggal lahir yang sama denganku, hanya saja beda beberapa tahun.

Beberapa minggu yang lalu, ada sedikit ‘keramaian’ di kantor. Beberapa butir telur melandas dengan sempurna pada kepala rekan kerjaku disusul dengan taburan terigu. "Waaaa… selamat ulang tahunn…". Saat itu aku sudah merasa was-was hari ini akan bernasib sama dengan rekan kerjaku itu. Heuheu…. Memang sih sebetulnya ada perasaan senang, karena diperhatikan oleh teman-teman… Tapi yaa, saya pribadi kurang setuju, lebih baik itu telor dan terigu dibikin kue dan dimakan rame-rame.

Pagi ini, aku sengaja berangkat agak siang dari biasanya, karena sedang ingin menyendiri. Last night, we had a little fought. (i’m sorry, this story can not be published yet). Saya menunggu bus mulai dari pukul 08.00, 45 menit kemudian, bus yang ditunggu muncul. Leuwi Panjang - Kotabaru via alun-alun. Dengan ditemani lagu-lagu khas dari 107.1 Fm, pikiranku melayang jauh ke masa lalu dan masa datang.

Siang ini, saya berencana mengadakan ‘perjalanan dinas’ ke daerah Sangkuriang untuk membicarakan suatu rencana pekerjaan. Pukul 10 saya dan teman saya berangkat dan sekalian office manager kami mau belanja bulanan ke bandung. Jadi yaa berempat lah kami melaju ke Bandung. 

Saya berharap saya akan menghabiskan waktu seharian di luar, agak tidak terjadi kejadian yang ‘tidak-tidak’ di kantor hehehe… Saat berdiskusi, ada hapeku berbunyi lagi tanda pesan singkat masuk. "…Selamat Milad…", dari kang wanto, teman seperjuangan dulu. Hmmm, sekarang beliau bekerja di STV. Diskusi berlanjut sembari mengkopi file-file untuk melengkapi database kami di kantor. My wishes come true, saya selesai berdiskusi sekitar pukul 14.00 dan OM kami masih ada keperluan yang perlu dibeli di PVJ, hehe.. kebetulan belum makan siang, akhirnya mobil didaratkan di kafe Tiga Cemara persis di samping Stasiun Geofisika Bandung Kelas Satu Jalan cemara.

Ayam bakar ingkang, 2 ikan gurame, 4 piring kangkung, dan lalaban kami pesan. Alhamdulillaah ditutup dengan secangkir bandrek hangat dengan kelapanya. Kenyang banget…. Itung-itung aja merayakan ultahku meskipun biaya ditanggung kantor hehehehe…. dengan alasan perjalanan dinas hueheuheuhe….

Sama halnya beberapa tahun lalu, pada tanggal ulang tahunku, temanku mentraktir di Tomodachi Resto, atas keberhasilannya mengerjakan suatu projek. Yaa… itung-itung merayakan juga hehehe… (menumpang dirayakan).

Dengan perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke PVJ. Terus terang, ini kali kedua saya ke mall baru tersebut. Lumayan asyik juga suasananya, apalagi di lantai satu-nya (sorry UG lebih tepatnya, karena L1 itu tempat parkir hehehehe…). Anehnya, ada tombol L2 di lift yang saya naiki… apakah masih akan dibangun lagi di atas tempat parkir ?????

Saya tertidur di mobil hingga sampai di kantor di KBP. Setelah unpacking barang belanjaan, kami pun diantar kembali ke Bandung karena Bus yang terakhir sudah melaju ke Bandung. Heuheu….. Saya mampir di IP untuk beli selusin donat untuk oleh-oleh orang rumah, sekaligus ucapan terima kasih juga buat ibuku yang sudah menyiapkan Nasi Uduk sebagaimana biasanya jika ada anggota keluarga kami yang berulang tahun… Bukan merayakan, tapi sekedar mensyukuri masih diberikan kenikmatan di jaman yang semakin susah ini.

Kepala cukup penat, yaah sudah penyakitku ini, kalo telat makan, pasti aku pusing-pusing…. tambah-tambah kena AC di mobil. Terlebih lagi my closest person didn’t say any words until i wrote this. Gee… bete banget deh. Untuk melepaskan ketegangan otot-otot leher, aku mengguyur diri dengan air panas…. dan hmmm segaarrr…. setelah itu, kami menyantap nasi uduk buatan ibuku yang lezat sebagaimana biasanya… dan ditutup dengan desert donat rasa mint….

Saya berencana menunggu pesan singkat hingga tengah malam tadi, dan kebetulan CP-ku ini berultah selang satu hari denganku, yaitu besok. So? If she didn’t say anywords to me, Should I doing the same ? Although I have bought some souvenier as present to her…

ooohh… here comes….. but after I read it I feel pathetic….

__________________________________________________________________________
arrounds| geophysics| meMarch 31, 2009 2:03 am

oleh Satrya Graha/"PR"***

KAA-AADATA awal pengukuran yang diperoleh tim eksplorasi dari Terralog dan Geofisika Terapan ITB pimpinan Dr. Hendra Grandis, membuat "PR", pegawai Museum Konperensi Asia Afrika (KAA), dan Bandung Heritage, dikejar rasa penasaran. Salah satunya, data awal yang memperlihatkan image kasar adanya "ruang kosong" di bawah ruang VIP I dan II yang sebelumnya tidak pernah terungkap. Yang lainnya, ialah data yang mengindikasikan adanya "ruang kosong" di trotoar depan Gedung Merdeka, dan trotoar depan bangunan tua di seberang Gedung Merdeka.

Ferry Rahman Aries, seorang peneliti Terralog belum berani menyimpulkan arti data itu. Menurut dia, kesimpulan bisa diambil jika data telah diolah. Pengolahan data memakai peranti lunak khusus yaitu Reflexw dan Sandmeier. Beberapa pekerjaan besar akan menanti jika hipotesis keberadaan lorong-lorong rahasia itu terbukti. Untuk Gedung Merdeka, kemungkinan akan dilakukan penggalian kembali jika terbukti ada terowongan itu.

Kepala Museum KAA Isman Pasha mengatakan, mereka bertekad mengembalikan bentuk asli Gedung Merdeka. Langkah awal ialah dengan menjebol pintu lorong bawah tanah yang kini di tertutup bata dan semen. Tekad Isman itu bukan main-main. Pasal 13 (2) UU RI No.5/1992 tentang Cagar Budaya menyebutkan, perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya wajib dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanannya.

Isman berharap, dengan dikembalikannya Gedung Merdeka ke bentuk aslinya, akan memberi pengalaman berbeda bagi para pengunjung yang datang ke Museum KAA. "Mereka nantinya tidak hanya datang, mendengar paparan soal KAA, atau hanya sekadar foto-foto. Saya ingin pengunjung mendapat sensasi dan pengetahuan yang berkesan. Salah satunya, perjalanan menyusuri ruang bawah tanah," katanya.

Dua hari setelah pengukuran, tim Terralog yang diwakili Ferry, memaparkan hasil pengolahan data pengukuran itu. Hasilnya, tidak jauh dari dugaan sebelumnya. Hasil pengolahan data menyebutkan, pengukuran di lintasan depan dan atas podium ruang konferensi, terindikasi adanya ruang bawah tanah yang ditimbun di bawah podium ruang utama. 

Lebarnya ruang bawah tanah itu tak jauh berbeda dengan lebar podium, sekitar tiga meter. Pengukuran di lintasan atas podium juga menunjukkan adanya suatu batas urukan sekitar 0,5 meter dari batas anak tangga paling atas.

Pengukuran dengan lintasan ruang utama, koridor antara ruang konferensi dengan ruang VIP, serta ruangan di sayap barat, menunjukkan ada ruang kosong yang diindikasikan sebagai lorong di bawah lantai. Lorong itu kemungkinan jalan tembus dari ruang bawah tanah yang ada sekarang menuju ruang di bawah podium.

Tak terbukti

Data pengukuran yang cukup fenomenal, yaitu gambaran ruang kosong di bawah ruang VIP I dan VIP II. Jika data kasar saat pengecekan menunjukkan adanya "ruang kosong", namun setelah data itu diolah ternyata tak terbukti. Data yang agak berbeda itu ternyata hanyalah perbedaan lapisan tanah di sekitar itu. Olah data pengukuran di trotoar depan Gedung Merdeka menunjukkan, ruang kosong di bawah trotoar tidak mengarah ke gedung di seberangnya.

Demikian juga dengan data georadar yang diperoleh dari trotoar sepanjang de Vries hingga Toko Lido. Hipotesis Gedung Merdeka tersambung dengan Gedung de Vries dan Toko Lido melalui terowongan, tidak terbukti. Data georadar yang menunjukkan "ruang kosong" hanyalah gorong-gorong.

Hasil itu membuktikan, cerita tentang lorong-lorong rahasia yang menghubungkan gedung-gedung tua di sepanjang Jln. Asia-Afrika hanyalah isapan jempol. Namun, cerita tentang ruang bawah tanah dan lorong di dalam Gedung Merdeka, benar adanya. Termasuk fakta keberadaan ruang bawah tanah di sejumlah bangunan tua zaman Belanda seperti de Vries dan Toko Lido

.: pikiran rakyat, Minggu, 29 Maret 2009 :.

__________________________________________________________________________
arrounds| geophysics| me 1:53 am

oleh (Satrya Graha/"PR")***

TIGA tulisan sebelumnya mengupas keberadaan terowongan di Gedung Merdeka, de Vries (Toko Padang), dan Toko Lido. Misi selanjutnya ialah mencari kebenaran tentang lorong-lorong bawah tanah yang kabarnya menghubungkan ketiga gedung tadi. 

Namun, sebelum itu dilakukan, akan dibuktikan tentang keberadaan terowongan rahasia di bawah Gedung Merdeka di sekitar ruang konferensi dengan ruangan bawah tanahnya.

Ada beberapa alternatif pilihan untuk membuktikan keberadaan terowongan dan lorong rahasia itu. Terdapat cara yang lebih efektif untuk dapat membuktikan ada tidaknya terowongan itu, yakni dengan menggunakan alat berteknologi canggih.

Dalam hal ini, "PR" berkonsultasi dengan Dr. Hendra Grandis yang merupakan Ketua Program Magister dan Doktor Geofisika Terapan di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Grandis menyarankan penggunaan alat yang bernama Geo Penetrating Radar atau biasa disebut georadar.

Alat tersebut biasa dipakai untuk menentukan kedalaman batuan dasar dalam penentuan fondasi suatu bangunan. georadar juga bisa dilakukan di jalan raya, mendeteksi pipa, terowongan atau ruang bawah tanah. Selain itu, georadar juga dapat diaplikasikan untuk eksplorasi mineral dan geologi.

Georadar memancarkan gelombang elektromagnetik yang merambat ke bawah permukaan dengan frekuensi 1-1.000 mhz. Metode ini bisa memetakan struktur bawah permukaan yang dangkal tanpa harus merusaknya. Instrumen yang dipakai ialah ProEx dengan antena RTA frekuensi 25 mhz, serta Ramac X3M dengan antena 250 mhz. Kedua instrumen produksi MALA Geosciences itu dioperasikan dengan bantuan para pegawai Terralog, layanan eksplorasi pertambangan yang berdomisili di Kota Baru Parahyangan.

"Ruang kosong"

Sebelum melakukan pengecekan, tim telah menentukan lintasan yang akan diambil. Lintasan-lintasan tersebut memotong target atau objek yang telah diketahui sebelumnya. Informasi awal yang dipegang ialah dugaan adanya terowongan di bawah podium ruang konferensi dan lorong lain yang diduga bercabang dari ruang utama itu.

Ruang bawah tanah Gedung Merdeka terletak di bawah ruang VIP dan ruang sayap barat. Lintasan deteksi georadar dilakukan di ruang utama serta beberapa lintasan lain yang memotong ruangan VIP itu.

Data awal yang diperoleh memperlihatkan adanya "ruang kosong" yang sempit di bawah lantai ruangan utama (di sisi podium), menuju ruang bawah tanah. Dari pengukuran di atas dan di depan podium diperoleh data kasar tentang perbedaan struktur tanah di bawah podium dengan struktur tanah di depan podium.

Tak puas di ruang utama, tim melakukan pengukuran di ruang lain, yaitu Ruang VIP I dan VIP II. Tim mendapatkan data yang cukup mengejutkan. Di ruang VIP I dan II itu, data alat itu menunjukkan image adanya "ruang kosong" yang sempit.

Data tersebut merupakan penemuan tak terduga karena sebelumnya tidak pernah ada yang mengetahui tentang keberadaan "ruang kosong" di bawah ruang VIP. "Sama seperti di ruang utama, ini baru data kasar. Belum tentu benar dan belum tentu salah. Data harus diolah dahulu," katanya.

Setelah mendeteksi ruangan dalam Gedung Merdeka, tim beralih ke luar Gedung Merdeka untuk melakukan pengukuran. Lintasan yang diambil ialah trotoar sepanjang Gedung Merdeka, de Vries, dan Toko Lido. Tim mendapatkan data kasar juga tentang adanya "ruang kosong" yang sempit di lintasan itu.

Pertanyaan berikutnya, apakah ketiga ruang kosong yang sempit itu saling berhubungan? Jika terbukti, berarti memang benar bahwa antara ketiga gedung tadi saling terhubung melalui lorong-lorong bawah tanah.

.:pikiran rakyat, Sabtu, 28 Maret 2009:.

__________________________________________________________________________